Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Amerika Serikat dan China sempat saling tuding soal asal usul pandemi Corona COVID-19

Rabu, 09 September 2020 | September 09, 2020 WIB Last Updated 2020-09-09T07:11:16Z

Amerika Serikat dan China sempat saling tuding soal asal usul pandemi Corona COVID-19

ASK
Amerika Serikat dan China sempat saling tuding soal asal usul pandemi Corona COVID-19. Presiden Donald Trump menyebutnya sebagai 'Chinese Virus' alias virus dari Tiongkok.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian bikin geger saat mengatakan, "bisa jadi US Army atau tentara AS yang membawa epidemi itu ke Wuhan".
Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, Nature Medicine mematahkan anggapan China maupun kubu Donald Trump, sekaligus membantah teori konspirasi yang menyebut virus pemicu COVID-19 atau SARS-CoV-2 adalah buatan manusia atau senjata biologis yang sengaja diciptakan.
Amerika Serikat dan China sempat saling tuding soal asal usul pandemi Corona COVID-19

Seperti dikutip dari situs www.sciencedaily.com, Rabu (18/3/2020), hasil analisis data publik terkait sekuens atau urutan genom (genome sequence) dari SARS-CoV-2 dan virus terkait tidak ditemukan bukti bahwa virus tersebut diciptakan di laboratorium.
"Dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang telah diketahui, kami meyakini bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses yang alami," kata Kristian Andersen PhD, associate professor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, yang menjadi salah satu penulis laporan studi tersebut.

Selain Andersen, sejumlah ilmuwan lain juga ikut andil dalam studi dan penulisan makalah berjudul, 'The proximal origin of SARS-CoV-2' itu. Termasuk, Robert F. Garry dari Tulane University, Edward Holmes dari University of Sydney, Andrew Rambaut dari University of Edinburgh, dan W. Ian Lipkin dari Columbia University.

Virus Corona (coronavirus) adalah keluarga besar (famili) virus yang dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang luas.
Meski telah dikategorisasi pada 1960-an, penyakit parah pertama yang diketahui disebabkan oleh Virus Corona adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mulai menjadi epidemi di China pada 2003.

Sementara, penyakit kedua yang mewabah adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang bermula di Arab Saudi pada 2012. Dan, pada 31 Desember 2019, pihak berwenang China memberitahukan pada Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai wabah virus corona baru yang menyebabkan penyakit parah, yang kemudian dinamai SARS-CoV-2. Hingga kini, virus tersebut memicu pandemi COVID-19 yang menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Hingga Rabu 18 Maret 2020 pukul 18.33, tercatat ada 201.530 kasus positif Virus Corona, 8.007 pasien meninggal dunia, dan 82.034 lainnya pulih. Kasus meluas karena penularan bisa terjadi antar-manusia.
Tak lama setelah epidemi terjadi, para ilmuwan China mengurutkan genom SARS-CoV-2 dan menyediakan data bagi para peneliti di seluruh dunia. Andersen dan para koleganya menggunakan data sekuens tersebut untuk mengeksplorasi asal mula dan evolusi SARS-CoV-2 dengan fokus ke sejumlah fitur khas virus tersebut.

Para ilmuwan menganalisis pola genetik (genetic template) protein lonjakan (spike proteins), armature atau pelindung di bagian luar virus yang digunakannya untuk menangkap dan menembus dinding luar sel manusia dan hewan. Lebih khusus, mereka berfokus pada dua fitur penting dari protein lonjakan: domain pengikat reseptor atau receptor-binding domain (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang, dan cleavage site yang memungkinkan virus untuk membuka celah dan memasukkan sel inang.

#ASK
×
Berita Terbaru Update