Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bukti Asal Usul COVID-19

Kamis, 10 September 2020 | September 10, 2020 WIB Last Updated 2020-09-10T07:13:00Z

Bukti Asal Usul COVID-19

ASK

Para ilmuwan menemukan bahwa bagian RBD dari protein lonjakan SARS-CoV-2 telah berevolusi sehingga bisa efektif menargetkan fitur molekuler di bagian luar sel manusia yang disebut ACE2 -- reseptor yang terlibat dalam pengaturan tekanan darah.

Protein lonjakan SARS-CoV-2 nyatanya sangat efektif untuk mengikat sel-sel manusia. Dari situ, para ilmuwan menyimpulkan, itu adalah hasil seleksi alam dan bukan produk rekayasa genetika.
Bukti evolusi alami ini didukung oleh data tulang punggung (backbone) SARS-CoV-2, yakni struktur molekul keseluruhannya.
Bukti Asal Usul COVID-19

Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, misalnya, mereka harus membuatnya dari backbone virus yang diketahui bisa menyebabkan penyakit.
Namun, para ilmuwan menemukan bahwa backbone milik SARS-CoV-2 berbeda secara substansial dengan yang ada pada virus corona lain, yang telah dikenal sebelumnya, dan kebanyakan menyerupai virus terkait yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

"Kedua fitur virus, mutasi pada bagian RBD dari protein lonjakan dan backbone yang berbeda mengesampingkan dugaan manipulasi laboratorium sebagai potensi asal SARS-CoV-2," kata Andersen.

Temuan Andersen dan koleganya disambut baik Josie Golding, PhD, pemimpin bagian epidemi Wellcome Trust, yang berpusat di Inggris.

Ia menyebut, temuan tersebut sangat krisial dengan menghadirkan pendapat berbasis bukti untuk menepis rumor yang beredar tentang asal-usul virus SARS-CoV-2 yang memicu pandemi COVID-19.
Jadi, dari mana virus pemicu COVID-19 berasal?
Menurut ilmuwan, berdasarkan analisis urutan genom, ada dua kemungkinan,
Pertama, virus berevolusi ke kondisi patogen saat ini melalui seleksi alam di inang non-manusia dan kemudian melompat ke manusia.

Proses itu mirip dengan wabah Virus Corona yang terjadi sebelumnya, manusia terinfeksi virus setelah terpapar langsung dengan musang (SARS) dan unta (MERS).
Para peneliti menduga kelelawar sebagai reservoir yang paling mungkin untuk SARS-CoV-2. Namun, sejauh ini belum tercatat ada kasus transmisi langsung dari kelelawar ke manusia.

#ASK
×
Berita Terbaru Update